Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf dikenal oleh para muridnya sebagai sosok murabbi (pembimbing) yang penuh keikhlasan siang dan malam mendidik santrinya untuk berakhlak dan berbudi pekerti luhur. Kelembutan perangainya sudah masyhur di kalangan masyarakat. Wajahnya yang sejuk, ramah dan santun membuatnya dekat dengan segenap kalangan masyarakat mulai dari orang-orang miskin, orang kaya, pedagang, petani, kiai, ulama, hingga pejabat. Tak jarang, para preman, orang-orang awam yang tak pernah mengenal ilmu dan berakhlak buruk, bisa mendapat hidayah dari Allah tatkala menyaksikan kemuliaan akhlak dan keramahan sang habib. Beliau memiliki ilmu yang luas, dan santrinya telah mencapai ribuan yang kebanyakan menjadi Kiai dan Fuqaha di seluruh Indonesia.
Habib Abdur Rahman bin Ahmad bin Abdul Qadir As-Saqqaf dilahirkan di Cimanggu, Bogor. Beliau telah menjadi yatim sejak kecil lagi. Sejak kecil pula kondisi ekonomi beliau dalam keadaan miskin. Suatu hari beliau pernah terkenang akan masa kecilnya. “Barangkali dari seluruh anak yatim, yang termiskin adalah saya. Waktu Lebaran, anak-anak mengenakan sandal
atau sepatu, tapi saya tidak punya sandal apa lagi sepatu." Kenang Habib Bukit Duri ini. Meskipun terlahir dalam keadaan yang kekurangan, tidak menyurutkan sedikitpun langkah dan niatan Habib Abdurrahman kecil untuk menuntut ilmu agama.
Beliau awal kali belajar di Pendidikan orang-orang Arab masa itu, yakni Jamiat Alkhair, Jakarta. Menginjak remaja dan dewasa Habib Abdurrahman Assegaf belajar kepada ulama-ulama besar pada masanya, antara lain beliau mendalami pelajaran agama pada Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas yang lebih terkenal dengan panggilan Habib Keramat Empang-Bogor. Selain berguru dengan Habib Empang Bogor, beliau juga menuntut ilmu kepada Habib Alwi bin Thahir al-Haddad (Mufti Johor), Habib Ali bin Muhammad bin Thahir al-Haddad, Habib Ali bin Husein al-
Attas (Habib Ali Bungur), Habib Ali bin 'Abdur Rahman al-Habsyi (Habib Ali Kwitang) dan para auliya dan ulama besar pada zamannya. Kepada para gurunya itu, Habib Abdurrahman selalu belajar dengan ketekunan dan disiplin yang tinggi. Kemiskinan sedikitpun tidak menjadi penghalang bagi beliau untuk bersungguh-sungguh dan ikhlas dalam belajar. Ketekunanya, telah menjadikan beliau dapat menguasai segala pelajaran yang diberikan dengan baik. Penguasaan ilmu-ilmu alat seperti nahwu telah membuat guru-gurunya kagum, bahkan menganjurkan agar murid-murid mereka yang lain untuk belajar dengan beliau.
Dari perintah para gurunya itulah, Habib Abdurrahman Assegaf mulai terjun ke dunia pengajaran. Beliau mulai mengajar dari satu madrasah ke madrasah lain. Beliau menyebarkan ilmunya tanpa kenal lelah dan tanpa mengharap bayaran. Hingga akhirnya beliau lembaga pendidikan sendiri yang beliau namakan Madrasah Tsaqafah Islamiyyah, di Bukit Duri, Jakarta. Rumah pribadi beliaulah yang menjadi tempat penyebar luasan ilmu agama itu. Jiwa pendidik, telah mendarah daging pada diri Habib Abdurrahman Assegaf. Hampir seluruh umurnya dibaktikan untuk ilmu dan pendidikan sehingga dia disebut sebagai gurunya para ulama.
Hari Senin, sekitar waktu Dhuhur pada tanggal 7 Rabi`ul Awwal 1428H (26 Maret 2007), guru mulia (sebutan bagai Habib Abdurrahman Assegaf) dipanggil ke hadapan Allah. Banyak yang merasa kehilangan beliau, bukan hanya keluarga dan anak-anaknya, bahkan ribuan muridnya yang meneruskan perjuangan dakwahnya turut kehilangan panutan dan murabbi.
Beliau dimakamkan Empang, Kota Bogor, Jawa Barat, pada hari Selasa, 27/3/2007. Dapat digambarkan, Kota Bogor saat itu seperti dibanjiri lautan putih. saat itu pusat kota nyaris lumpuh, akibat macetnya seluruh ruas jalan ketika ratusan ribu umat muslim se-Jabodetabek tumpah ke Kota Hujan untuk mengiringi jenasah ulama besar Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf. ke peristirahatan terakhirnya di TPU Lolongok, Empang Bogor Selatan, Jawa Barat. Tangis duka dan doa-doa menggema mengiringi pemakaman keturunan Rasulullah Muhammad ke-35, yang meninggal diusia ke-105 tahun ini.
Habib Abdurrahman Assegaf mewariskan Pesantren Jabbul Muslim di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan bagi kaum muslimin. Karangan-karangan beliau ada yang dalam Bahasa Arab, Jawa dan Sunda. Karangannya tidak terbatas pada satu cabang ilmu saja, tetapi berbagai macam ilmu, mulai dari tauhid, tafsir, akhlak, fikih, hingga sastra. Karangan beliau yang dicetak antara lain: 1. Hilyatul Janan fi hadyil Quran, Safinatus Sa`id, Misbahuz Zaman, Bunyatul Ummahat, dan Buah Delima. Begitulah, disamping dikenal tidak pernah memungut bayaran, bagai para sanrti yang mengaji kepada Habib Abdurrahman Assegaf, beliau juga dikenal suka berderma bagai kemaslahatan muslimin. Beliau telah memberikan dana pembangunan kepada hampir seluruh pesantren di Jabotabek.
Kamis, 19 November 2009
Habib Abdur Rahman bin Ahmad bin Abdul Qadir As-Saqqaf
Diposkan oleh
Penerbit dan Distributor Buku Islam
di
19:38
Label: Biografi Ulama
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)


























0 komentar:
Poskan Komentar