Check out this SlideShare Presentation:
Sabtu, 09 Januari 2010
RINGKASAN BIOGRAFI NABI
Diposkan oleh
Penerbit dan Distributor Buku Islam
di
17:21
0
komentar
Jumat, 20 November 2009
Dakwah Pemuda Bersama Nurul Musthofa

Nurul Musthofa merupakan majelis yang sangat fenomenal di Kota Jakarta. Dalam waktu singkat majelis yang semula hanya memiliki beberapa puluh jama’ah itu, kini mencapai hampir lima puluh ribu orang yang hadir setiap minggunya. Dan mencapai tiga ratus ribu orang pada even-even tertentu. Keberkahan para wali diyakini oleh pengasuhnya ad-Da’i ilallah al-Habib Hasan bin Ja’far Assegaf, sebagai motivator dan penggerak langkah kaki ribuan para pemuda itu sehingga mau menuju ke majelis shalawat dan dzikir, mengaji bersama, di saat para pemuda lainnya terpedaya oleh gemerlap hiburan malam di Kota Jakarta.
Syababul Yaum Rijalul Ghad begitu kata pepatah. Setiap pemuda adalah calon manusia yang akan menuliskan sejarah pada lembaran-lembaran kehidupannya. Masa muda merupakan masa pencarian jati diri. Kehidupan diwarnai kemauan dan hasrat yang menggebu, pribadi dan perangai mulai tercetak dan menentukan bagaimana kehidupannya kelak. Islam mengajarkan, bahwa masa muda merupakan saat yang tepat bagi seorang hamba untuk menjadikannya sebagai sarana agar lebih dekat dengan Allah swt. Kekuatan fisik dan kemauan yang kuat dapat memaksimalkan dirinya untuk senantiasa menggapai keridhaan Allah swt semata. Pemuda yang bertakwa dibanggakan oleh Allah kepada seluruh makhluknya. Bahkan kisahnya diabadikan dalam
Qur’anul karim.
Sebagaimana firman Allah swt: “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi ayat: 13.)
Di tengah kondisi Jakarta saat ini yang diibaratkan oleh Kyai Abdul Hayyie sebagai hutan belantara yang dihuni oleh binatang buas, Majelis Nurul Musthofa menjadi harapan bagi umat. Majelis ini menjadi benteng dari infiltrasi budaya asing yang secara cepat maupun lambat dapat dengan mudah menghancurkan generasi muda. Kita memohon kepada Allah swt agar selalu memelihara, memberikan petunjuk serta memberikan pertolongan kepada kita semua. Tiada kekuatan untuk berbuat taat dan meninggalkan maksiat melainkan dengan pertolongan dan taufik dari Allah swt.
Diposkan oleh
Penerbit dan Distributor Buku Islam
di
08:11
0
komentar
Label: Khazanah Islam
Kamis, 19 November 2009
Habib Abdur Rahman bin Ahmad bin Abdul Qadir As-Saqqaf
Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf dikenal oleh para muridnya sebagai sosok murabbi (pembimbing) yang penuh keikhlasan siang dan malam mendidik santrinya untuk berakhlak dan berbudi pekerti luhur. Kelembutan perangainya sudah masyhur di kalangan masyarakat. Wajahnya yang sejuk, ramah dan santun membuatnya dekat dengan segenap kalangan masyarakat mulai dari orang-orang miskin, orang kaya, pedagang, petani, kiai, ulama, hingga pejabat. Tak jarang, para preman, orang-orang awam yang tak pernah mengenal ilmu dan berakhlak buruk, bisa mendapat hidayah dari Allah tatkala menyaksikan kemuliaan akhlak dan keramahan sang habib. Beliau memiliki ilmu yang luas, dan santrinya telah mencapai ribuan yang kebanyakan menjadi Kiai dan Fuqaha di seluruh Indonesia.
Habib Abdur Rahman bin Ahmad bin Abdul Qadir As-Saqqaf dilahirkan di Cimanggu, Bogor. Beliau telah menjadi yatim sejak kecil lagi. Sejak kecil pula kondisi ekonomi beliau dalam keadaan miskin. Suatu hari beliau pernah terkenang akan masa kecilnya. “Barangkali dari seluruh anak yatim, yang termiskin adalah saya. Waktu Lebaran, anak-anak mengenakan sandal
atau sepatu, tapi saya tidak punya sandal apa lagi sepatu." Kenang Habib Bukit Duri ini. Meskipun terlahir dalam keadaan yang kekurangan, tidak menyurutkan sedikitpun langkah dan niatan Habib Abdurrahman kecil untuk menuntut ilmu agama.
Beliau awal kali belajar di Pendidikan orang-orang Arab masa itu, yakni Jamiat Alkhair, Jakarta. Menginjak remaja dan dewasa Habib Abdurrahman Assegaf belajar kepada ulama-ulama besar pada masanya, antara lain beliau mendalami pelajaran agama pada Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas yang lebih terkenal dengan panggilan Habib Keramat Empang-Bogor. Selain berguru dengan Habib Empang Bogor, beliau juga menuntut ilmu kepada Habib Alwi bin Thahir al-Haddad (Mufti Johor), Habib Ali bin Muhammad bin Thahir al-Haddad, Habib Ali bin Husein al-
Attas (Habib Ali Bungur), Habib Ali bin 'Abdur Rahman al-Habsyi (Habib Ali Kwitang) dan para auliya dan ulama besar pada zamannya. Kepada para gurunya itu, Habib Abdurrahman selalu belajar dengan ketekunan dan disiplin yang tinggi. Kemiskinan sedikitpun tidak menjadi penghalang bagi beliau untuk bersungguh-sungguh dan ikhlas dalam belajar. Ketekunanya, telah menjadikan beliau dapat menguasai segala pelajaran yang diberikan dengan baik. Penguasaan ilmu-ilmu alat seperti nahwu telah membuat guru-gurunya kagum, bahkan menganjurkan agar murid-murid mereka yang lain untuk belajar dengan beliau.
Dari perintah para gurunya itulah, Habib Abdurrahman Assegaf mulai terjun ke dunia pengajaran. Beliau mulai mengajar dari satu madrasah ke madrasah lain. Beliau menyebarkan ilmunya tanpa kenal lelah dan tanpa mengharap bayaran. Hingga akhirnya beliau lembaga pendidikan sendiri yang beliau namakan Madrasah Tsaqafah Islamiyyah, di Bukit Duri, Jakarta. Rumah pribadi beliaulah yang menjadi tempat penyebar luasan ilmu agama itu. Jiwa pendidik, telah mendarah daging pada diri Habib Abdurrahman Assegaf. Hampir seluruh umurnya dibaktikan untuk ilmu dan pendidikan sehingga dia disebut sebagai gurunya para ulama.
Hari Senin, sekitar waktu Dhuhur pada tanggal 7 Rabi`ul Awwal 1428H (26 Maret 2007), guru mulia (sebutan bagai Habib Abdurrahman Assegaf) dipanggil ke hadapan Allah. Banyak yang merasa kehilangan beliau, bukan hanya keluarga dan anak-anaknya, bahkan ribuan muridnya yang meneruskan perjuangan dakwahnya turut kehilangan panutan dan murabbi.
Beliau dimakamkan Empang, Kota Bogor, Jawa Barat, pada hari Selasa, 27/3/2007. Dapat digambarkan, Kota Bogor saat itu seperti dibanjiri lautan putih. saat itu pusat kota nyaris lumpuh, akibat macetnya seluruh ruas jalan ketika ratusan ribu umat muslim se-Jabodetabek tumpah ke Kota Hujan untuk mengiringi jenasah ulama besar Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf. ke peristirahatan terakhirnya di TPU Lolongok, Empang Bogor Selatan, Jawa Barat. Tangis duka dan doa-doa menggema mengiringi pemakaman keturunan Rasulullah Muhammad ke-35, yang meninggal diusia ke-105 tahun ini.
Habib Abdurrahman Assegaf mewariskan Pesantren Jabbul Muslim di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan bagi kaum muslimin. Karangan-karangan beliau ada yang dalam Bahasa Arab, Jawa dan Sunda. Karangannya tidak terbatas pada satu cabang ilmu saja, tetapi berbagai macam ilmu, mulai dari tauhid, tafsir, akhlak, fikih, hingga sastra. Karangan beliau yang dicetak antara lain: 1. Hilyatul Janan fi hadyil Quran, Safinatus Sa`id, Misbahuz Zaman, Bunyatul Ummahat, dan Buah Delima. Begitulah, disamping dikenal tidak pernah memungut bayaran, bagai para sanrti yang mengaji kepada Habib Abdurrahman Assegaf, beliau juga dikenal suka berderma bagai kemaslahatan muslimin. Beliau telah memberikan dana pembangunan kepada hampir seluruh pesantren di Jabotabek.
Diposkan oleh
Penerbit dan Distributor Buku Islam
di
19:38
0
komentar
Label: Biografi Ulama
Kamis, 01 Oktober 2009
Tiga Serangkai Ulama Tanah Betawi

Dari abad ke abad, Kota Jakarta menggeliat dalam napas keislaman yang kental. Di tengah hiruk pikuknya Ibu Kota, ada sisi menarik yang patut disoroti di Kota Jakarta. Yaitu banyaknya majelis-majelis yang di dalamnya berisi tentang ajaran dan tradisi para alawiyin. Bahkan majelis-majelis tersebut sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Anehnya bertambah hari, jama’ah yang datang pun semakin meningkat, mereka sangat antusias hadir di tempat-tempat tersebut. Majelis tersebut merupakan embrio dari majelis-majelis yang dirintis oleh para habaib yang datang saat itu untuk menyebarkan Islam. Tak bisa dipungkiri, bahwa masyarakat Betawi merupakan masyarakat yang tingkat religiusnya sangat tinggi. Hal itu nampak dari kecintaan mereka terhadap para ulama, terutama ulama dari kalangan habaib.
Buku yang ada di tangan para pembaca sekalian adalah buku yang menjelaskan metode dakwah para Ulama Alawiyin yang datang ke Indonesia yang disertai komentar para ahli sejarah, baik sejarawan Arab, Barat hingga komentar Cendekiawan Indonesia sepanjang zaman, Buya Hamka, tentang dakwah kaum alawiyin. Intinya, buku ini menjelaskan bagaimana pengaruh para habib tersebut di Tanah Betawi, hingga biografi dan perjalanan dakwah tentang tiga Ulama Betawi yang memiliki pengaruh yang sangat besar bagi para masyarakat Betawi. Mereka adalah tiga serangkai ulama yang seiring sejalan dan selangkah dalam berdakwah. Mereka itu adalah: Al-Habib Ali Kwitang, Al-Habib Ali Bungur dan Al-Habib Salim bin Jindan. Mereka menjadi rujukan utama masyarakat Betawi saat itu. Hampir semua masyarakat Betawi kala itu berguru kepada mereka.
Mereka mengedepankan akhlak dan budi pekerti yang luhur, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Mereka sangat menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah, persatuan dan kesatuan ummat. Metode dakwah yang mereka usung adalah “Bil Hikmah Wal Mauidhatil Hasanah.” Mereka telah menyebarkan Agama Islam dengan damai dan lemah lembut, sehingga masyarakat Betawi kala itu dengan mudah dan lapang dada menerima apa-apa yang telah mereka ajarkan. Dalam berdakwah, mereka berlandaskan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka memiliki pengaruh yang sangat besar dalam dakwah Islam di negeri ini pada umumnya dan di Tanah Betawi pada khususnya.
Buku yang sederhana ini juga dilengkapi galeri foto-foto tentang mereka. Tujuan penulisan buku ini bukanlah untuk berbangga-bangga dengan nasab atau pun mengkultuskan para alawiyin. Harapan saya, dengan terbitnya buku ini akan dapat memberikan sedikit pengetahuan dan informasi, sehingga kita dapat meneladani jejak langkah mereka dan semoga kita dapat memetik manfaat dari sekelumit biografi dan perjalanan mereka.
Diposkan oleh
Penerbit dan Distributor Buku Islam
di
12:20
0
komentar
Label: Resensi Buku
17 Habaib Berpengaruh di Indonesia

Masyarakat Islam Indonesia, khusunya kalangan pesantren sudah tidak asing lagi dengan sebutan habib atau habaib kepada keturunan Arab yang masih memiliki talian darah dengan Rasulullah. Sebutan habib merupakan sebuah gelar yang disematkan para pecinta sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada Rasulullah shallahu 'alaihi wasalam. Di beberapa negara, sebutan untuk dzurriyat rasul ini berbeda-beda. Di Maroko dan sekitarnya mereka lebih dikenal dengan sebutan syarif, di daerah Hijaz mereka lebih di kenal dengan sebutan sayyid, sedangkan di nusantara ini umumnya mereka dikenal dengan sebutan habib.
Pada sekitar abad 9 H sampai 14 H mulai membanjirnya hijrah kaum alawiyin keluar dari Hadramaut. Mereka menyebar ke seluruh belahan dunia hingga sampailah ke nusantara ini. Di antara mereka ada yang mendirikan kerajaan atau kesultanan yang peninggalannya masih dapat disaksikan hingga kini, di antaranya Kerajaan Al-Aydrus di Surrat (India), Kesultanan Al-Qadri di kepulauan Komoro dan Pontianak, Al-bin Syahab di Siak dan Kesultanan Bafaqih di Filipina. Tokoh utama alawiyin pada masa itu adalah Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad (Shahibul Ratib). Sejarawan Hadramaut, Asy-Syeikh Muhammad Bamuthrif mengatakan bahwa alawiyin atau qabilah3 ba'alawi dianggap qabilah yang terbesar jumlahnya di Hadramaut dan yang paling banyak hijrah ke Asia dan Afrika.
Kata alawiyin memiliki dua pengertian. Pengertian pertama ialah keturunan Sayidina Ali bin Abi Thalib, sedangkan pengertian kedua menunjukkan keturunan Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-'Uraidhi bin Jakfar Ash-Shadiq. Istillah alawiyin atau ba'alawi juga digunakan untuk membedakan keluarga ini dari keluarga para sayyid lainnya yang sama-sama keturunan Rasulullah salallahu 'alaihi wasalam.
Kemudian dalam perkembangannya sebutan 'alawi dinisbatkan kepada Al-Imam Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir . Alwi adalah cucu pertama Al-Imam Ahmad Muhajir bin Isa yang lahir di Hadramaut dan pada masa itu beliaulah orang pertama yang diberi nama Alwi. Beliau wafat setelah abad ke-4 hijriah. Kepadanya kembali semua keturunan ba'alawi yang berasal dari Hadramaut .
Dalam buku “Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh”, Prof.Dr.Hamka menyebutkan bahwa gelar syarif khusus digunakan bagi keturunan Sayyidina Hasan dan Husein apabila menjadi raja. Banyak dari para sultan di Indonesia adalah keturunan Rasulullah shallahu 'alaihi wassalam. Diantaranya Sultan di Pontianak mereka digelari syarif. Sultan Siak terakhir secara resmi digelari Sultan Sayyid Syarif Qasim bin Sayyid Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin. Demikian pula dengan pendiri Kota Jakarta yang lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati, beliau digelari Syarif Hidayatullah.”
Kemudian Buya Hamka menjelaskan bahwa dalam sebuah hadis, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam bersabda yang artinya “Sesungguhnya anakku ini adalah pemimpin (sayyid) pemuda ahli surga” (seraya menunjuk kedua cucu beliau, Sayyidina Hasan dan Husein). Berlandaskan hadis tersebut, sudah menjadi tradisi turun temurun bahwa setiap keturunan Sayyidina Hasan dan Husein digelari sayyid. Dipandang sangat tidak hormat kepada Rasulullah jika ada yang mengatakan bahwa Rasulullah shallahu 'alaihi wasalam tidak memiliki keturunan dan mengatakan bahwa orang yang mengaku keturunan beliau adalah seorang yang berbohong. Tidak akan mengatakan perkataan seperti ini kecuali orang yang iri dan dengki.
Di Indonesia sendiri ada lembaga khusus yang mencatat nasab para alawiyin. Sehingga benar-benar gelar habib atau sayyid tidak disalahgunakan oleh seseorang. Lembaga tersebut lebih dikenal dengan nama Rabithah Alawiyah yang berpusat di Jakarta.
Buku ini merupakan kumpulan buku biografi singkat para auliya’ yang telah memperkenalkan, memperjuangkan serta memiliki kontribusi besar dalam dakwah Islam di nusantara ini. Seorang Orientalis Barat Snouck Hurgronje, menuliskan bahwa, “Banyak para ulama dari kaum alawiyin asal Hadramaut yang sangat berpengaruh dan menjadi pusat rujukan kaum muslimin di Indonesia. Mereka memiliki jasa besar dalam menorehkan jejak dakwah di seluruh pelosok negeri ini.”
“Para Sayyid asal Hadramaut memiliki peranan yang sangat besar dalam dakwah islamiyah di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Semua ahli sejarah telah menyebutkan betapa besarnya usaha dan peranan mereka. Hijrahnya mereka dari Hadramaut ke tempat yang jaraknya ribuan mil dengan menyeberangi lautan, tidaklah bertujuan kecuali untuk menyebarkan Islam. Dan mereka tidak sedikitpun mencari keuntungan materiil maupun moril”. Itulah yang dikatakan sejarawan Prancis Gustave Le Bon tentang peranan para habaib dalam menyebarkan Islam di Indonesia.
Mereka berdakwah sesuai dengan caranya masing-masing. Meskipun cara dakwah mereka berbeda, namun mereka tetap berpegang teguh dalam satu ikatan akidah, yaitu ahlussunnah wal jama'ah. Mereka mewarisi sifat datuk mereka, Al-Imam Ali Zainal 'Abidin yang perilakunya agung dan sangat mulia. Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad telah menyifati mereka dalam untaian syairnya: “Mereka tetap dalam jejak Nabi (Muhammad) dan para sahabatnya, serta generasi sesudahnya. Maka tanyakan kepadanya dan ikuti jejak mereka. Mereka menelusuri jalan menuju kemuliaan dan ketinggian. Setapak demi setapak mereka telusuri dengan kegigihan dan kesungguhan”
Penulis mengkhususkan penulisan buku ini hanya pada 17 profil ulama bukan berarti mereka utama dari ulama yang lain, namun menimbang terbatasnya data yang ada maka diputuskan untuk mengangkat 17 ulama yaitu: Al-Habib Husein bin Abubakar Al-Aydrus Keramat Luar Batang, Jakarta, Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Attas Pekalongan, Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas Keramat Empang, Bogor, Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi Surabaya, Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor Bondowoso, Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf Gresik, Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi Kwitang, Jakarta, Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Thohir Al-Haddad Bogor, Al-Habib Husein bin Muhammad bin Thohir Al-Haddad
Jombang, Al-Habib Jakfar bin Syaikhan Assegaf Pasuruan, Al-Habib Ali bin Husein Al-Attas Jakarta, Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri Palu, Sulawesi Tengah, Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Darul Hadis, Malang, Al-Habib Muhammad bin Husein Al-Aydrus Surabaya, Al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan Jakarta, Al-Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid Tanggul, Jember, dan Prof. DR. As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani Makkah, Saudi Arabia.
Diposkan oleh
Penerbit dan Distributor Buku Islam
di
12:16
0
komentar
Label: Resensi Buku
Selasa, 29 September 2009
Secangkir Hikmah

Kekuatan kata-kata mampu membangkitkan seseorang dari koma yang panjang, begitu kata orang bijak. Memang sebuah kata positif dapat memberikan secercah sinar terang di tengah kegelapan. Palagi bila kata-kata itu terucap dari lisan ulama dan orang-orang shalih. Kata mutiara, hikmah, nasehat serta motivasi tersebut dapat membangkitkan semangat serta fikiran untuk giat dalam berbuat kebajikan. Buku ini berisi kumpulan kata mutiara dan motivasi hikmah dari para Sahabat Nabi saw, auliya’, ulama, dan shalihin sebagai pedoman dalam kehidupan. Semua nasehat yang mereka ucapkan bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.
Shared via AddThis
Diposkan oleh
Penerbit dan Distributor Buku Islam
di
21:11
0
komentar
Sabtu, 12 September 2009
Kitab Zakat (Bag.4)
Hadits ke-32
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Siapa saja orang islam yang memberi pakaian orang Islam yang tidak memiliki pakaian, niscaya Allah akan memberinya pakaian dari hijaunya surga; dan siapa saja orang Islam yang memberi makan orang Islam yang kelaparan, niscaya Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan surga; dan siapa saja orang Islam yang memberi minum orang Islam yang kehausan, niscaya Allah akan memberinya minuman dari minuman suci yang tertutup." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dalam sanadnya ada kelemahan.
Hadits ke-33
Dari Hakim Ibnu Hazm Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima); dan mulailah dari orang-orang yang banyak tanggungannya; dan sebaik-baik sedekah ialah yang diambil dari sisa kebutuhan sendiri, barangsiapa menjaga kehormatannya Allah akan menjaganya dan barangsiapa merasa cukup Allah akan mencukupkan kebutuhannya." Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.
Hadits ke-34
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah ditanya: Wahai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, sedekah apakah yang paling mulia? Beliau menjawab: "Sedekah orang yang tak punya, dan mulailah (memberi sedekah) atas orang yang banyak tanggungannya. Dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim.
Hadits ke-35
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Bersedekahlah." Lalu seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah, aku mempunyai satu dinar? Beliau bersabda: "Bersedekahlah pada dirimu sendiri." Orang itu berkata: Aku mempunyai yang lain. Beliau bersabda: "Sedekahkan untuk anakmu." Orang itu berkata: Aku masih mempunyai yang lain. Beliau bersabda: "Sedekahkan untuk istrimu." Orang itu berkata: Aku masih punya yang lain. Beliau bersabda: "Sedekahkan untuk pembantumu." Orang itu berkata lagi: Aku masih mempunyai yang lain. Beliau bersabda: "Kamu lebih mengetahui penggunaannya." Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Hakim.
Hadits ke-36
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila perempuan menafkahkan sebagian makanan di rumahnya tanpa merusak (anggaran harian) maka baginya pahala atas apa yang ia nafkahkan, bagi suaminya juga pahala karena ia yang bekerja, dan begitu pula bagi yang menyimpannya. Sebagian dari mereka tidak mengurangi sedikit pun pahala atas sebagian lainnya." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-37
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa Zainab, istri Abu Mas'ud, bertanya: Wahai Rasulullah, baginda telah memerintahkan untuk bersedekah hari ini, dan aku mempunyai perhiasan padaku yang hendak saya sedekahkan, namun Ibnu Mas'ud menganggap bahwa dirinya dan anaknya lebih berhak untuk aku beri sedekah. Lalu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ibnu Mas'ud memang benar, suamimu dan anakmu adalah orang yang lebih berhak untuk engkau beri sedekah." Riwayat Bukhari.
Hadits ke-38
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Orang yang selalu meminta-minta pada orang-orang, akan datang pada hari kiamat dengan tidak ada segumpal daging pun di wajahnya." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-39
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa meminta-minta harta orang untuk memperkaya diri, sebenarnya ia hanyalah meminta bara api. Oleh karenanya, silahkan meminta sedikit atau banyak." Riwayat Muslim.
Hadits ke-40
Dari Zubair Ibnu al-'Awwam Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Seorang di antara kamu yang mengambil talinya, lalu datang dengan seonggok kayu di atas punggungnya, kemudian menjualnya dan dengan hasil itu ia menjaga kehormatannya adalah lebih baik daripada ia meminta-minta orang yang terkadang mereka memberinya atau menolaknya." Riwayat Bukhari
Hadits ke-41
Dari Samurah Ibnu Jundab Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Meminta-minta adalah cakaran seseorang terhadap mukanya sendiri, kecuali meminta kepada penguasa atau karena suatu hal yang amat perlu." Hadits shahih riwayat Tirmidzi.
Hadits ke-42
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Zakat itu tidak halal diberikan kepada orang kaya kecuali lima macam, yaitu: Panitia zakat, atau orang yang membelinya dengan hartanya, atau orang yang berhutang, atau orang yang berperang di jalan Allah, atau orang miskin yang menerima zakat kemudian memberikannya pada orang kaya." Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Hakim, namun ia juga menilainya cacat karena mursal.
Hadits ke-43
Dari Ubaidillah Ibnu Adiy Ibnu al-Khiyar Radliyallaahu 'anhu bahwa dua orang menceritakan kepadanya bahwa mereka telah menghadap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam untuk meminta zakat pada beliau. Lalu beliau memandangi mereka, maka beliau mengerti bahwa mereka masih kuat. Lalu beliau bersabda: "Jika kalian mau, aku beri kalian zakat, namun tidak ada bagian zakat bagi orang kaya dan kuat bekerja." Riwayat Ahmad dan dikuatkan oleh Abu Dawud dan Nasa'i.
Hadits ke-44
Dari Abdul Muttholib Ibnu Rabi'ah Ibnu Harits bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya zakat itu tidak patut bagi keluarga Muhammad, karena ia sebenarnya adalah kotoran manusia." Dan menurut suatu riwayat: "Sesungguhnya ia tidak halal bagi Muhammad dan keluarga Muhammad." Riwayat Muslim.
Hadits ke-45
Jubair Ibnu Muth'im Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku dan Utsman Ibnu Affan pernah menghadap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, lalu kami bertanya: Wahai Rasulullah, baginda telah memberi seperlima dari hasil perang Khaibar kepada Banu al-Mutthalib dan baginda meninggalkan kami, padahal kami dan mereka adalah sederajat. Lalu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya Banu al-Mutthalib dan Banu Hasyim adalah satu keluarga." Riwayat Bukhari.
Hadits ke-46
Dari Abu Rafi' Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah mengutus seseorang dari Banu Makhzum untuk mengambil zakat. Orang itu berkata kepada Abu Rafi': Temanilah aku, engkau akan mendapatkan bagian darinya. Ia menjawab: Tidak, sampai aku menghadap Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam untuk menanyakannya. Lalu keduanya menghadap beliau dan menanyakannya. Beliau bersabda: "Hamba sahaya suatu kaum itu termasuk kaum tersebut, dan sesungguhnya tidak halal zakat bagi kami." Riwayat Ahmad, Imam Tiga, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban.
Hadits ke-47
Dari Salim Ibnu Abdullah Ibnu Umar, dari ayahnya Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah memberikan sesuatu kepada Umar Ibnu Khattab. Lalu ia berkata: Berikanlah pada orang yang lebih membutuhkan daripada diriku." Beliau bersabda: "Ambillah, lalu simpanlah atau bersedekahlah dengannya. Dan apa yang datang kepadamu dari harta semacam ini, padahal engkau tidak membutuhkannya dan tidak meminta, maka ambillah. Jika tidak demikian, maka jangan turuti nafsumu." Riwayat Muslim.
Hadits ke-48
Dari Qobishoh Ibnu Mukhoriq al-Hilaly Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya meminta-minta tidak dihalalkan kecuali bagi salah seorang di antara tiga macam, yakni orang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian ia berhenti; orang yang tertimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup; dan orang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga tiga orang dari kaumnya yang mengetahuinya menyatakan: "Si fulan ditimpa kesengsaraan hidup." ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain tiga hal itu, wahai Qobishoh, adalah haram dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram." Riwayat Muslim, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban.
Diposkan oleh
Penerbit dan Distributor Buku Islam
di
19:45
0
komentar
Label: Artikel Islam
Kitab Zakat (Bag.3 )
Hadits ke-20
Dari Amar Ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu 'anhu bahwa seorang perempuan datang kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersama putrinya yang mengenakan dua gelang emas ditangannya. Lalu beliau bertanya: "Apakah engkau mengeluarkan zakat gelang ini?" Dia menjawab: Tidak. Beliau bersabda: "Apakah engkau senang pada hari kiamat nanti Allahakan menggelangi kamu dengan dua gelang api neraka?" Lalu perempuan itu melepaskan kedua gelang tersebut. Riwayat Imam Tiga dengan sanad yang kuat. Hadits shahih menurut Hakim dari hadits 'Aisyah.
Hadits ke-21
Dari Ummu Salamah Radliyallaahu 'anhu bahwa dia mengenakan perhiasan dari emas, lalu dia bertanya: Ya Rasulullah, apakah ia termasuk harta simpanan? Beliau menjawab: "Jika engkau mengeluarkan zakatnya, maka ia tidak termasuh harta simpanan." Riwayat Abu Dawud dan Daruquthni. Hadits shahih menurut Hakim.
Hadits ke-22
Samurah Ibnu Jundab Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kami agar mengeluarkan zakat dari harta yang kita siapkan untuk berjualan. Riwayat Abu Dawud dan sanadnya lemah.
Hadits ke-23
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Zakat rikaz (harta peninggalan purbakala) adalah seperlima." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-24
Dari Amar Ibnu Syu'aib dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tentang harta simpanan yang ditemukan seseorang di suatu tempat yang tidak berpenghuni. Jika engkau menemukannya pada kampung yang dihuni orang, maka umumkan. Jika engkau menemukannya pada kampung yang tidak dihuni orang, maka zakatnya sebagai rikaz itu seperlima." Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dengan sanad hasan.
Hadits ke-25
Dari Bilal Ibnu Harits Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengambil zakat dari barang-barang tambang di Qalibiyah. Riwayat Abu Dawud.
Hadits ke-26
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebesar satu sho' kurma atau satu sho' sya'ir atas seorang hamba, orang merdeka, laki-laki dan perempuan, besar kecil dari orang-orang islam; dan beliau memerintahkan agar dikeluarkan sebelum orang-orang keluar menunaikan sholat. Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-27
Menurut riwayat Ibnu Adiy dan Daruquthni dengan sanad yang lemah: "Cegahlah mereka agar tidak keliling (untuk minta-minta) pada hari ini.
Hadits ke-28
Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu berkata: Pada zaman Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam kami selalu mengeluarkan zakat fitrah satu sho' makanan, atau satu sho' kurma, atau satu sho' sya'ir, atau satu sho' anggur kering. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat lain: Atau satu sho' susu kering. Abu Said berkata: Adapun saya masih mengeluarkan zakat fitrah seperti yang aku keluarkan pada zaman Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam Dalam riwayat Abu Dawud: Aku selamanya tidak mengeluarkan kecuali satu sho'.
Hadits ke-29
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak berguna dan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum sholat, ia menjadi zakat yang diterima dan barangsiapa mengeluarkannya setelah sholat, ia menjadi sedekah biasa. Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Hakim.
Hadits ke-30
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tujuh macam orang yang akan dilindungi Allah pada hari yang tidak ada lindungan kecuali lindungan-Nya - kemudian ia menyebutkan hadits dan didalamnya disebutkan - orang yang bersedekah dengan sedekah yang ia tutupi sehingga tangannya yang kiri tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-31
Dari Uqbah Ibnu Amir bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Setiap orang bernaung di bawah sedekahnya sehingga ia diputuskan (amal perbuatannya) antara manusia." Riwayat Ibnu Hibban dan Hakim.
Diposkan oleh
Penerbit dan Distributor Buku Islam
di
19:44
0
komentar
Label: Artikel Islam
Kitab Zakat (Bag.2 )
Hadits ke-10
Dari Amar Ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa mengurus anak yatim yang memiliki harta, hendaknya ia memperdagangkan harta itu untuknya, dan tidak membiarkannya sehingga dimakan oleh zakat." Riwayat Tirmidzi dan Daruquthni, sanadnya lemah. Hadits ini mempunyai saksi mursal menurut Syafi'i.
Hadits ke-11
Dari Abdullah Ibnu Aufa bahwa biasanya bila suatu kaum datang membawa zakat kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau berdoa: "Ya Allah, berilah rahmat atas mereka." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-12
Dari Ali bahwa Abbas bertanya kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam penyegeraan pengeluaran zakat sebelum waktunya, lalu beliau mengizinkannya. Riwayat Tirmidzi dan Hakim.
Hadits ke-13
Dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tak ada zakat pada perak yang kurang dari 5 auqiyah (600 gram), unta yang jumlahnya kurang dari 5 ekor, dan kurma yang kurang dari 5 ausaq (1050 liter)." Riwayat Muslim.
Hadits ke-14
Menurut riwayatnya dari hadits Abu Said r.a: "Tidak ada zakat pada kurma dan biji-bijian yang kurang dari 5 ausaq (1050 liter)." Asal hadits dari Abu Said itu Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-15
Dari Salim Ibnu Abdullah, dari ayahnya r.a, bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tanaman yang disiram dengan air hujan atau dengan sumber air atau dengan pengisapan air dari tanah, zakatnya sepersepuluh, dan tanaman yang disiram dengan tenaga manusia, zakatnya seperduapuluh." Riwayat Bukhari. Menurut riwayat Abu Dawud: "Bila tanaman ba'al (tanaman yang menyerap air dari tanah), zakatnya sepersepuluh, dan tanaman yang disiram dengan tenaga manusia atau binatang, zakatnya setengah dari sepersepuluh (1/20)."
Hadits ke-16
Dari Abu Musa al-Asy'ary dan Mu'adz Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada keduanya: "Jangan mengambil zakat kecuali dari keempat jenis ini, yakni: sya'ir, gandum, anggur kering, dan kurma." Riwayat Thabrani dan Hakim.
Hadits ke-17
Menurut Daruquthni bahwa Mu'adz Radliyallaahu 'anhu berkata: Adapun mengenai ketimun, semangka, delima dan tebu, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah membebaskan (zakat)-nya. Sanadnya lemah.
Hadits ke-18
Sahal Ibnu Abu Hatsmah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kami apabila kamu menaksir, maka kerjakanlah, tetapi bebaskan sepertiga. Apabila kamu enggan membebaskan sepertiga, maka bebaskan seperempat. Riwayat Imam Lima kecuali Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Hakim.
Hadits ke-19
Attab Ibnu Asid Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan agar anggur ditaksir sebagaimana kurma, dan zakatnya diambil setelah dalam keadaan kering. Riwayat Imam Lima dan sanadnya terputus.
Diposkan oleh
Penerbit dan Distributor Buku Islam
di
19:42
0
komentar
Label: Artikel Islam

























